We’ll Miss You, Axl!

My birthday is coming this week, but this is not kind of gift I’ve ever wanted for my day.

Axl left us when I was out of town. My brother stayed to nurse him since Axl had been sick for two days before I went. That day, my brother took him to the vet, but it was a national holiday, the vet was closed, and Axl has gone forever that night.

To me, it’s a great loss that I couldn’t stop my tears that night, till now. Axl was a generous fellas and friendly to cat-mates in our house. He always followed me anywhere, snuggled my feet, and stared me with love in his eyes.

So long, my dear fellas.. I know, your memories will always remain in our heart. I love you, may peace will always be with you.

 

Rest in peace, Axl..

 Image

Cerita Sunyi Dari Ban Non Ping

Dari laguna Xe Bang Fai, tim eksplorasi gua mendayung di atas perahu karet menuju mulut bawah Gua Nam Lot (Foto: Ronald Agusta)

“Kami mengenalnya dengan dua nama: Tham Nam Lot dan Tham Xe Bang Fai.” Kalimat itu terucap dari mulut Lung Siyone, kepala desa nomor satu Ban Non Ping. Tidak ada yang tahu pasti tentang legenda Tham Nam Lot – nam berarti air, lot berarti terowongan –  bahkan oleh Lung Siyone dan sesepuh Ban Non Ping lainnya. Meski orang Makong di Ban Non Ping meyakini spirit Nam Lot sebagai sosok yang baik, menelusuri Tham Nam Lot bukan hal yang wajar dilakukan penduduk desa.

Ban Non Ping merupakan desa terdekat dari lokasi Tham Nam Lot. Jaraknya kurang lebih tiga ratus meter dari mulut gua. Daerah ini mulai dihuni sejak para sesepuh mendapat wangsit roh leluhur untuk mencari wilayah baru karena wabah penyakit yang menyerang penduduk desa. Ban Non Ping juga menyimpan peristiwa perang saudara dan salah satu daerah jatuhan UXO atau unexploded ordnance dalam sejarah Lao PDR.

Orang Makong penghuni Ban Non Ping termasuk ke dalam sub-etnik Lao Theung, kelompok etnis besar Lao yang menghuni kaki pegunungan. Dalam bahasa Lao, non berarti danau, dan ping berarti pacet. Setiap hujan tiba di bulan Mei-September, air Xe Bang Fai meninggi dan menyeret pacet-pacet kecil di atas tanah Ban Non Ping. Penduduk Ban Non Ping lebih sering menyebut sungai ini dengan kata Nam Lot, nama yang sama dengan cara mereka menyebut gua Khoun Xe. Nam Lot menjadi sumber air bersih utama penghuni Ban Non Ping, yang menjadikannya suatu tabu untuk membuang sampah dan kotoran, termasuk buang air kecil dan air besar, ke dalam jernihnya Xe Bang Fai. Dari sini, air kehijauan Xe Bang Fai mengalir melewati jantung propinsi Khammouane dan Savannakhet di selatan, sebelum bermuara dan menyatu di sungai Mekong.

Anak perempuan membawa air dari Xe Bang Fai. Di Ban Non Ping, tugas mengangkut air menjadi tanggung jawab anak perempuan. Sementara anak laki-laki bertugas membantu keluarga untuk berburu ke hutan atau melakukan pekerjaan berat lain. (Foto: Ronald Agusta)

SIAPA YANG TAHAN TERPAAN ANGIN DINGIN MUSIM KERING BAN NON PING? Dalam lingkaran mengelilingi api unggun, Mee ditemani dua orang tentara jaga dan Lung Siyone – lung berarti paman – serta Lung Ke Liunaley, salah satu sesepuh desa, bercakap-cakap sambil mendekatkan tangan mereka di atas tumpukan kayu yang terbakar. Tak jauh dari situ, Kod, Khampodi Khamchan – Kepala  Polisi Turis untuk Propinsi Khammouane yang mengawal kami selama ekspedisi ini – asyik  bermain kartu semirip permainan poker bersama Nam dan Lot, sopir kami. Pemain yang kalah, harus meminum lao lao setinggi dua jari, cukup untuk menghangatkan dada di tengah cuaca dingin pagi ini.

Kami masih belum bosan duduk bersimpuh di samping asrama bersama mereka, dekat api unggun yang tidak pernah mati. Rumah kayu asrama guru ini berdiri kokoh menghadap pelataran luas yang dipenuhi rumput dan pohon besar yang menua. Di ujung kanannya, bangunan sekolah dasar Ban Non Ping ramai disinggahi anak-anak kecil yang datang dari desa ini dan tiga desa lain di sekitar Ban Non Ping. Beberapa anak berkumpul dan menyalakan api unggun di halaman sekolah sambil menunggu waktu istirahat belajar berakhir. Sementara di seberang sana, bangunan tua arsitektur Perancis tempat klinik kesehatan beroperasi, tampak sepi berdampingan dengan rumah panggung tempat warga berkumpul untuk pertemuan bersama. Satu pos militer yang kusam tak terurus terletak di ujung jalan, melengkapi fasilitas bangunan yang ada di Ban Non Ping. Kami datang di Ban Non Ping saat musim kering baru dimulai. Awan putih yang berjalan cepat di langit menjadi tanda kencangnya angin yang berhembus di atas sana. Hembusan tiupan kencang angin menerpa pelataran tengah tempat anak-anak kecil bermain bola. Tebalnya jaket yang kami kenakan seperti tak mampu melawan terpaan angin dingin Ban Non Ping.

Sementara di kolong asrama, Linda Rosyani – staf medik ekspedisi – tampak sibuk melayani beberapa orang yang sengaja datang untuk meminta obat. Pada hari pertama penelusuran gua, kami berpapasan dengan Hung Mo di laguna Xe Bang Fai. Belakangan kami semakin mengenalnya karena rumah Hung Mo terletak di ujung kompleks perkampungan pada jalan setapak tempat warga mengambil air. Hung Mo sempat mendatangi Linda untuk meminta obat sakit gigi. Kali ini, sebagian besar yang datang adalah orang tua bersama anak-anaknya yang terkena diare dan demam. Ban Non Ping juga endemik malaria, seperti yang dialami seorang anak pasien rawat inap di klinik kesehatan. Hanya satu dua orang yang mampu pergi ke klinik karena biaya berobat yang terbilang mahal. Padahal di Ban Non Ping, tumbuh beberapa herbs pengobat sakit perut, dan mungkin masih banyak tanaman obat lain.

Seorang ibu menumbuk beras ketan, makanan pokok penduduk Ban Non Ping yang mereka tanam di ladang-ladang pinggir desa. Tidak ada hasil panen yang dijual, semua hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. (Foto: Ronald Agusta)

“Apa pendapatmu tentang turis?” tanya Eno sambil menahan angin dingin. “Itu bagus. Kami terbuka dengan turis.”, jawan Lung Ke. Lung Ke adalah orang Ban Non Ping pertama yang memasuki Gua Nam Lot. “Waktu itu tahun 1995,” kenangnya. Turis bisa berarti berkah karena mendatangkan uang bagi penduduk desa, terutama bagi pemandu lokal yang jumlahnya saat ini ada enam orang. Namun kekhawatiran utama Lung Ke dari kedatangan turis adalah kemunculan sampah plastik di Ban Non Ping. Benda berbahan plastik memang masih jarang ditemui di sini walaupun penggunaan deterjen sudah mulai ada. Namun jumlahnya tidak terlalu signifikan untuk menimbulkan permasalahan sampah. Turis juga berarti peluang baru. Misalnya, Kod yang tiga anak lelakinya masih bersekolah. Satu saat nanti, Kod berharap mereka dapat membantunya sebagai pemandu Gua Nam Lot. Untuk anaknya yang perempuan, tentu saja Kod tidak menginginkan hal yang sama. Perempuan di Ban Non Ping bertanggung jawab untuk membersihkan rumah dan memasak. Sejak kecil, perempuan di sini terbiasa mengambil air di sungai. Sementara anak lelaki bertanggung jawab untuk pekerjaan yang dianggap berat, seperti membangun rumah.

Sebagai desa yang paling dekat dengan letak Gua Nam Lot, Ban Non Ping menjadi tempat yang terkadang disinggahi turis, terutama farang –istilah untuk menyebut orang asing berkulit putih– meskipun jumlah turis yang mengunjungi Gua Nam Lot tidak sebanyak gua-gua wisata lainnya di propinsi Khammouane. Perlu persiapan panjang untuk berwisata ke Gua Nam Lot: mulai dari perizinan dari tingkat propinsi, distrik, hingga ke desa, serta perjalanan di jalan tanah yang melelahkan namun seru selama enam jam dari ibukota propinsi, Thakek.

NAMANYA MAI KONGKEOOSA. Usianya 26 tahun. Mai adalah kepala sekolah dasar Ban Non Ping. Ini tahun keempat Mai mengajar matematika di sini. Setiap akhir minggu saat sekolah libur, Mai pulang ke rumah orangtuanya di Ban Nasombun, dua kilometer jauhnya dari Ban Non Ping. Terkadang, libur akhir minggu menjadi waktu Mai untuk berburu di hutan, mencari burung atau tumbuh-tumbuhan seperti jamur dan rebung bambu untuk tambahan makan sehari-hari. Meski begitu, Mai sangat mencintai pekerjaannya dan merasa puas dengan upah yang ia terima. Sebagai penduduk desa, Mai sangat bersyukur dapat memiliki kesempatan sekolah lebih tinggi. Setamat kuliah di Sekolah Tinggi Pendidikan dan Keguruan di Propinsi Savannakhet, Mai ditugaskan mengajar di Ban Non Ping.

Sekolah baru saja usai. Kami dan Mai, ditemani Somphone Phankhodsombud – staf kantor Informasi Budaya dan Turis untuk Distrik Boua Ra Pha yang turut menemani kami selama tinggal di Ban Non Ping – sedang duduk bersama di bawah tangga rumah panggung kayu tempat kami tinggal ketika terdengar gemuruh derap langkah anak-anak kecil berlari menghampiri. Kira-kira ada dua ratus anak. Kami terlonjak kaget. Anak-anak itu dengan cepat meraih tiang-tiang pancang kayu yang bertumpuk tepat di belakang kami.

“Jangan berebut. Satu orang ambil satu buah!”, perintah Mai yang segera berdiri dan mengawasi murid-muridnya. “Ada apa ini?” Ronald Agusta bertanya. “Ada kegiatan sekolah. Ayo ikut ke sungai!” ajak Phon, panggilan akrab Somphone, seraya bangkit berdiri. Sambil bertanya-tanya dalam hati, kami bersama Phon mengikuti anak-anak yang memanggul tiang kayu ke arah sungai. Setiba di tepi sungai, terlihat para guru memberi perintah untuk membawa tiang kayu ke lokasi tertentu dan mengatur pembagian tugas. Sebagian anak bertugas meruncingkan ujung tiang kayu. Anak yang usianya lebih besar, bertugas menancapkan tiang ke pasir tepi sungai. Sisanya sibuk bercanda menceburkan diri ke dalam Xe Bang Fai. Semua tertawa penuh keriangan.

Mai dan Lao Sykiengkham, pengajar tujuh mata pelajaran, turut membantu anak laki-laki menancapkan tiang kayu. Tak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi, kami meminta Phon untuk bertanya pada Lao. “Ini projek kebun sekolah. Beberapa hari lalu, setiap murid ditugaskan membawa satu tiang pancang kayu untuk memagari tanaman. Hari ini saatnya membuat pagar, tapi ini belum cukup. Masih perlu tiang pancang lagi untuk membuatnya sempurna,” jawab Lao.

“Apa yang akan ditanam?” tanya Eno. “Sayuran, seperti bawang dan sosin”, sahut Lao. “Apa sayuran itu untuk dijual?” Lao tersenyum. “Tidak. Ini untuk kami makan bersama, guru dan semua murid.” Tak jauh dari tempat tiang terpancang, beberapa petak tanah sudah ditumbuhi sayuran. Satu petak milik sekolah, petak-petak lain milik penduduk desa. Menurut Lao, sekarang saat yang tepat untuk projek kebun sekolah. Pada musim hujan, air Xe Bang Fai meluap menutupi hamparan pasir tempat kami berdiri sekarang. Usai semua tiang tertancap, ibu guru Jon Phonmany memerintahkan semua murid untuk berkumpul di dekat lokasi pagar yang baru saja didirikan. Dengan patuh mereka datang mendekat dan mendengarkan arahan Jon. Semua murid bertanggung jawab menjaga kebun sekolah, dan mendapat tambahan nilai bila kebun dinyatakan berhasil.

Satu petak kebun sekolah yang sudah ditumbuhi sayuran. Secara bergiliran, setiap anak ditugaskan untuk menyiram dan merawat tanaman. Hasil panen akan dimasak bersama untuk guru dan murid Ban Non Ping. (Foto: Ronald Agusta)

Selesai mengikuti kegiatan anak-anak, kami berjalan perlahan meninggalkan Xe Bang Fai. Batu hitam tebing Hinamno di belakang kami tampak kuning keemasan ditempa sinar matahari sore. Di antara rumah-rumah panggung Ban Non Ping, babi-babi mungil dan induknya tampak bebas melenggang di antara kolong rumah dan jalan setapak yang berdebu di awal musim kering bulan Desember. Anjing terlihat di setiap penjuru, akrab bermain dan berdampingan dengan manusia. Sapi dan kerbau beriringan dalam kelompok tanpa seorangpun yang mengawasi.

“Apa itu kerbau liar?” tanya Ronald penasaran pada Phon. “Bukan. Mereka ada pemiliknya.” jawab Phon sambil menjelaskan, “Kerbau-kerbau dan sapi-sapi itu biasa pergi mencari makan di pagi hari. Mereka kembali ke rumah pemiliknya menjelang malam”. “Bagaimana bisa? Apa tidak takut pencuri?” tanya Ronald kembali. “Tidak usah khawatir. Di sini aman. Tidak ada yang berani mencuri benda milik orang lain.”

Bagi orang Makong, hewan ternak seperti kerbau dan babi adalah simbol kekayaan. Menjelang kedatangan turis ke gua Nam Lot, kerbau atau babi digunakan sebagai korban persembahan untuk spirit penghuni Nam Lot. Sebagian orang menjual hewan ternak untuk membeli motor atau traktor. Sekarang, perhiasan emas juga menjadi simbol kekayaan baru, seperti pada umumnya orang Lao di Thakek. Namun, tidak banyak orang Makong di Non Ping yang mengenakan perhiasan emas.

Sisa sore itu kami lewatkan dengan kembali berkumpul di api unggun bersama para guru di samping rumah panggung kayu tempat kami tinggal yang merupakan asrama para guru sekolah dasar Ban Non Ping. Di rumah panggung kayu ini, mereka memberikan satu-satunya ruang keluarga untuk dipenuhi oleh dua puluh orang anggota tim ekspedisi ini. Sementara, mereka tetap menempati tiga kamar tidur kecil yang pintunya menghadap ke ruang keluarga. Mai masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan saat mengajar tadi pagi: jaket, celana jeans, dan bersandal. Tidak ada seragam khusus untuk guru dan murid dalam kelas. Itu juga yang kami saksikan sesaat lalu di pinggir Xe Bang Fai. Murid-murid mengenakan baju yang sama saat mereka di kelas dan bermain di luar jam sekolah.

Di halaman sekolah saat waktu istirahat belajar, beberapa anak berkumpul mengelilingi api unggun kecil yang mereka buat sendiri. Sejak kecil, anak-anak sekolah Ban Non Ping terampil membuat api unggun dan menggunakan parang. (Foto: Ronald Agusta)

Sambil memegang buku pelajaran Bahasa Inggris, Mai mengajak kami untuk ikut membaca dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Lao. Sempat ia berkata, “Maaf, aku tak bisa berbahasa Inggris.” “Tak apa-apa, Mai!” jawab Eno melalui Phon. Bahasa Inggris juga bukan bahasa utama kami. Ucapan Mai mengingatkan kami tentang pentingnya membekali diri dengan bahasa lokal tujuan perjalanan, walaupun sebatas kosakata sederhana.

Sambil menikmati teh hangat, kami terus bercakap panjang tentang Ban Non Ping dan Nam Lot. Sekolah dasar Ban Non Ping, memiliki sejarah panjang tentang pemberontakan Pathet Lao atas dominasi kerajaan Luang Prabang di Vieng Chan dukungan penjajah Perancis. Dua kelompok etnis di Lao, Lao Theung dan Lao Loum – yang menghuni dataran rendah Lao dan menyebar hingga dataran tinggi Korat di Thailand – menjadi pendukung setia gerakan Phatet Lao. Peristiwa ini mengantar Prince Souphanouvong, pemimpin tertinggi Phatet Lao dan presiden pertama republik Lao, berjalan kaki dari Vieng Chan sampai tiba di Non Ping untuk bersembunyi dari kejaran tentara kerajaan. Sebagai balasan jasa, Souphanouvong salah satunya membangun gedung sekolah dan asrama guru di Ban Non Ping tempat kami tinggal.

Tak terasa sore sudah berakhir, berganti dengan gelapnya malam. Listrik tak sampai di sini meskipun tiang-tiang listrik yang terbuat dari kayu dari masa lalu masih tampak berdiri tegak di beberapa sudut desa. Tak lama berselang, Mai pamit meninggalkan kami semua. Malarianya kambuh dan ia harus beristirahat cepat.

DI ATAS JALAN TANAH YANG PENUH DEBU, kami terduduk di bangku penumpang songthew yang bergerak meninggalkan Boua Ra Pha. Songthew yang kami tumpangi masih menyusuri perjalanan pulang menuju Thakek. Ada sesuatu di pergelangan tangan kami. Seikat tali katun putih gading penanda doa keselamatan tersemat saat upacara perpisahan di Ban Non Ping sesaat sebelum kami berangkat pulang. “Kenakan selama tiga hari ke depan. Semoga keselamatan selalu bersama kalian.” Itu lah pesan terakhir dari kepala desa dan sesepuh Ban Non Ping. Beberapa dari kami bahkan dibekali sebutir telur ayam yang juga ditujukan sebagai doa keselamatan. Empat jam berlalu sebelum jajaran tebing karst dan hamparan padang rumput menjadi pemandangan di kanan kiri jalan. Akhirnya, jalan tanah berganti jalan aspal mulus. Songthew berbelok ke kiri. Tebing-tebing yang menjulang tinggi masih menemani perjalanan ini. Melewati gedung pabrik Lao Wood Industry dan Lao Cement Industry, pikiran kami terusik pada satu pertanyaan: sampai kapan hutan dan tebing-tebing di hadapan kami ini dapat terus memberikan kesejukan dan pemandangan damai bagi setiap orang yang melaluinya?

The Controlling Games

I could never think of such things. I found a dead kitten last week, attacked by senior cats perhaps? Is it some kind of population control in cats society? Or the night was just too cold for the poor baby to bear. I haven’t known it for more.

It reminds me of Koneng, which the name derives from her yellow-brown stripped fur. She just gave birth for the second time, to three tiny cute kittens. She lost all of the previous babies that seemly similar case to the dead kitten I found lately, male senior attack. Now she is a mother again. But my mind can’t stop thinking. I was too late to have her spayed. To be honest, she is too young to nurse. Her body is so tiny that I doubted myself when her pregnancy comes. Regarding this, my sisters and I plan to spay her as soon as her nursing is over. There’s enough homeless cat roaming around in this world.

The proud mother and her cutie babies

Koneng roams around my parent’s neighbour and usually spend the night at my parents’ garden. My younger sisters usually take care of her. For mostly custom here in Indonesia, people sometimes ignored that cats are carnivores. And it happens to Koneng as well that mostly she’s fed by left-over food, meaning: cooked rice and food. Well yes, she hunts. But cats were born as carnivores thus they prefer eat flesh meat. In the world crowded with people and civilization, what do you expect them to catch for dinner? So sometimes I collect money by myself to buy fresh fish for Koneng and Putih, her sibling. I need to manage my spending wisely, because I have Billy on the other hand and Topeng needs some extra for the vet, medicine, and his food. In this regard, I thank to Fanny, a very nice friend of mine who helps me to support Topeng’s food.

A week before the labour day. Look at her belly!

Some of you must be wondering. why should I care so much about Koneng? She’s a feral cat and she can manage to survive. Well, the thing isn’t that simple, folks! This is Indonesia, the land of miracle can happen with a blink of an eye, if you’ve got money in the pocket for sure. Imagine yourself as a cat. Here, you’re dead unless you’re born as a pure-bred. That’s if you’re lucky enough because pure-bred doesn’t guarantee you’ll be happy ever after. People are encouraged to spend money for high price pure-bred thus made breeding as a promising industry. A friend of mine even said that my city is the most successful home industry for cat breeding among others Indonesian metropolis. She often found abandoned pure-bred kittens around her rented pavilion. And among other things, we have poor law on animal protection.And as for the information, my city doesn’t have any organization working on cats and dogs welfare. This situation ends up with uncountable homeless cats, abandoned new born kittens, and claiming human as the most dominant species controlling over the planet. I might not a WWF or Greenpeace activist.

I might not a politician who has the capabilities and power to bring this up into some sort of lip service policy. I just believe that cats and other species beside human, has come to the planet long before we arrived. Thus we should treat them in respect.***

The Long Waiting of Cheers and Joy

Eid Mubarak is coming in two days. I saw people had started their busiest days for the coming event. Malls and local chains were crowded with people, craving to shop. This is Bandung. The city of over five million inhabitants was so passionate to celebrate the end of the holy month, Ramadhan. Suddenly it happened to be a shopping week, an endless feast, the crisis of reality, and morality.

Cutie Topeng

To me, the holy month was about a lost fanaticism. I was on my way home after a short visiting friend. It was right in the middle of craziest traffic I’ve been for the last ten years. I took a public transport that successfully trapped me in a jam. It couldn’t move for five minutes, not even an inch. So, I decided to take a walk. Then there’s a question popped out in my mind. Why wouldn’t I be a part of this joy ride? What makes me so cynical to accept the holy month? What is this all about? Do I lose my faith that I kept in mind since I was a child? Have I become the unbeliever? It might be. Because there are two important reasons that makes me so.

First, we will leave Billy for two days to celebrate Eid Mubarak out of town. This is going to be my first experience leaving Bandung for Moslem’s holy day. It means tiring travel of eight hours back and forth. Since I’ve been married on last December, now I try to give a chance celebrating the feast at my husband’s relative. I don’t want to disappoint him though I know very sure he’s not really a ‘mudik’ person. We’ll keep Billy inside the house with his food plate and water bowl full. I believe he’s going to be fine.

Second, Topeng and Tomi will lose me for a quite some time. I won’t be here to feed them. The brothers have become a very close friend to Billy. They usually come twice, in the morning and evening. Tomi is braver, stronger, and more feral. He is healthy enough to live roaming around the neighbor and also suspicious to human. Topeng is more friendly though he’s weak and intimidated to human at our first meet. Now he more trusts me, isn’t afraid to be near me, and of course screams low to ask the food. Both Tomi and Topeng were born in our front yard. No one knows what happened to their mother and the other sibling, though we know the father is Garong. He’s the feral king on the block. I wish I could catch him and send for spaying. It has been too many neglected kittens born because of him. Of course it wasn’t his fault. He’s only a cat after all. It is we are, the human that should take the responsibility of overpopulated cats.
Now it’s almost eight pm. Outside the house is loud and merry with fireworks. Billy sleeps in the bed near to TV. I’m not sure what happens to the brothers Tomi and Topeng. But I’m sure they will be seeing me again tomorrow.

Band of Brothers: Napping time!

Ironi Kebun Sawit

“Her name is Green, she is alone in a world that doesn’t belong to her. She is a female orang-utan, victim of deforestation and resource exploitation.” (green the film)

Pernahkan anda mencermati banyak benda berunsur minyak sawit yang terdapat dalam rumah anda sendiri? Minyak sawit hadir dalam segala bentuknya mulai dari makanan, kosmetik, deterjen, hingga bahan bakar bio-fuel. Ambil contoh, bahan makanan. Sekarang ini, hampir semua bahan makanan mengandung minyak sawit. Chips kentang, mentega, mayonaise, minyak sayur/goreng, mie instant, saus dan sambal botol, dsb. Tidak hanya itu, sawit juga terdapat di produk kosmetik dan kecantikan seperti shampo, sabun mandi, pasta gigi, pelembab wajah, roll on, dll. Lalu, pernahkah anda untuk barang sejenak merenung dari mana datangnya minyak sawit? Kita tahu, perkebunan sawit banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Malah saat ini pemerintah Indonesia sudah menyetujui rencana perluasan kebun sawit di Papua. Kenyataannya, pembukaan kawasan perkebunan sawit telah mengorbankan hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan yang berarti pula merampas habitat orang hutan dan tempat tinggal masyarakat adat.

Film dokumenter ini bercerita tentang perjalanan Green, orang hutan yang ditemukan buruh perkebunan, terlunta di tengah kebun sawit Sumatera. Berdurasi 48 menit, tanpa dialog, namun kekuatan visualnya cukup banyak membawa pesan tentang harga mahal yang harus dibayar mahluk hidup, termasuk manusia, demi sebuah industri minyak sawit. Alasan sustainable development? That’s totally bullshit! 

Green, juga orang hutan lainnya yang masih tersisa di hutan Sumatera, tidak pernah bermimpi bershampo Dove, makan sarapan pagi di Mac Donald’s, atau bergelayutan di pohon tinggi sambil menggenggam Kit Kat. Begitu pula masyarakat adat yang dianggap terasing oleh pemerintah RI. Kapitalisme hanya menjual mimpi. Mimpi kaum urban di kota-kota besar Indonesia dan bangsa yang mengklaim lebih modern di negara maju. Ingatlah, setiap kali anda menyeruput kopi instan tanpa ampas, atau sebungkus mie instan menu sore ini, ada satu orang hutan yang terampas hidupnya.

(Informasi lebih jauh tentang film ini dan full length film dapat didownload gratis di www.greenthefilm.com)

Animal Birth Control for Pets

Billy age 5 month. Neuter helps domestic cats and dogs to prevent aggressive behavior also to control birth rate.

A few weeks ago, I had my Billy neutered at veterinary clinic. It was a hard decision for us since we did not want Billy to get painful caused in the surgery though it comes in anesthetic. Moreover, we never thought the urgency in having our cat sterilized. Well, we have a male cat and there is no necessary to worry about if he’s got pregnant.. :) which means Billy will never deliver kittens into the house.

Yes, we always discuss why cat is over populated. They are homeless, sick, abandoned, suffered, and living for nothing. Can you imagine how many cats we actually see in life? Among your neighborhood? In the traditional market? How many abandoned cats are living in your city street? Lucky cats are adopted (=bought) by people who can afford branded can food, take their cats for medical check and grooming. Cats who live in the street almost have no time to take care of their body since they are busy hunting for preys or even if they’re just sneaking out for food in your trash bin.

This is why I do not agree with animal trading thus made me a pet shop-hater. To me, animal trading industry has the causalities to the high demand of dogs and cats breed. Lets say, among six newborn kittens, there will be only two or three perfect kittens chosen according to quality control standard. So how these breeders deal with the unexpected puppies and kittens? They just throw the others dog and kitten away, in empty street, in busy traditional market, or in dumping site. How awful! I once heard that in China, breeders buried the unexpected kittens alive. This is what I called barbaric!

What’s the point in having a long haired cat, with exotic looks instead of adopting a poor little one next to your house? I do not against pure breed. In fact, I want to have a Siberian Husky or a Beagle, and Norwegian Forest cat as well one day. I found them really cute! But then I realized the risks of pure breed lying behind animal industry. Pets are not fashion, folks! They are mammals with emotion and thoughts just like humans are. Once you get bored with your old cap, you can hang it on the wall and get a new one. But, you CANNOT throw your pets away because they aren’t cute anymore. Thus, think carefully again before you enter pet shops.

I adopted Billy from my relatives. When Billy’s mother had five kittens come, I knew somebody should have the responsibility for the babies’ future. Never buy kittens and puppies, or animal else from the pet shops. This is the effective way to stop the cruel animal industry. Other way is to neuter your companion dogs and cats. Yes, neutered pets wouldn’t be able to wander around neighborhood without supervision. That’s true! And that’s why you must provide proper home and food, health treatment, and loving care for your pets. Once they get neutered, they should remain as a home-stayed pet. Just remember, the time you get a pet into your house, you should consider that you are dealing with a lifetime responsibility. Be a responsible owner!

Give me money, Lady!

Petualangan ke Seam Reap ini berawal dari kejemuan masa-masa mengetik tugas kuliah di tahun 2009. Ajakan teman sekelas, Donna, langsung saya terima. Kami berdua berangkat menuju Kamboja dari perbatasan Arnyapathet-Poipet, sisi barat Thailand.

Taksi Motor di Seam Reap

Sekilas, kota ini mengingatkan saya pada Bandung. Ruas jalannya tidak begitu lebar, banyak pohon peneduh jalan yang menjulang tinggi, dan arsitektur gedung lama khas Eropa seperti yang saya temui di Bandung. Kota ini memang sempat menjadi tempat peristirahatan bangsa Perancis selama mereka menduduki Kamboja. Kini, Seam Reap sekaligus juga menjadi tempat tujuan turis asing yang berniat mengunjungi Angkor Wat. Dari pusat kota, Angkor Wat dapat ditempuh dengan lima belas menit berkendaraan. Umumnya kendaraan umum di sini menggunakan gerobak yang ditarik motor bebek. Untuk jarak dekat, harganya cukup dengan USD 1. Kita juga bisa menyewa taksi motor sehari penuh berkeliling Angkor Wat seharga USD 10.

Kota ini terbilang tenang, tidak pernah terlihat kemacetan lalu lintas. Jumlah kendaraan memang belum banyak. Pengendara motor pun bebas berkeliaran tanpa helm pengaman. Mungkin situasinya akan lain jika pemerintah Kamboja memberi kemudahan kredit kendaraan, seperti yang Indonesia alami saat ini. Seperti kebanyakan bangsa Kamboja, umumnya penduduk Seam Reap terdiri dari etnis mayoritas Khmer dan Tionghoa. Mayoritas penduduk banyak yang memanfaatkan bidang pariwisata sebagai mata pencaharian. Di sini banyak terlihat  kedai makanan, warung internet, dan tempat penginapan.

Iklan Coca Cola di Warung Makan Seam Reap

Saya teringat Ratana, roomy saya yang berasal dari Pnom Penh, ibukota Kamboja. Menurutnya, Seam Ream bermakna penaklukan bangsa Khmer terhadap Thai (seam=siam=etnis thai sekarang, reap=terbaring). Di sini, ratusan tahun lalu, etnis Khmer mengalahkan etnis Siam dalam sebuah peperangan yang terjadi untuk saling berebut kekuasaan dan wilayah. Konflik antara Kamboja yang mayoritasnya terdiri dari etnis Khmer dan Thailand yang kebanyakan terdiri dari etnis Thai, masih berlanjut hingga saat ini. Saya juga teringat miniatur Angkor Wat di Grand Palace, Bangkok. Menurut seorang teman Thai, Angkor Wat pernah dikuasai bangsa Thai. Itulah sebabnya, kerajaan Thai merasa perlu memajang miniatur kompleks candi yang masuk dalam World Heritage itu, di bekas istana kerajaan Thai. Sejarah bangsa Kamboja memang tidak pernah lepas dari peperangan dan kekerasan. Mulai dari konflik antar etnis Indo-Cina puluhan abad lalu sampai pemberontakan tentara Khmer Rouge yang menyeret Pol Pot sebagai penjahat perang terbesar kedua setelah Hitler.

Pengalaman pahit dan trauma konflik akibat peperangan tersirat dalam setiap percakapan dengan generasi muda Khmer. Seperti Ratana, yang memilih untuk fokus bekerja dan menata masa depan daripada larut dalam pembicaraan sejarah bangsanya. Itulah sebabnya, kebanyakan generasi muda Khmer memilih untuk pergi ke kota untuk bekerja atau meneruskan pendidikan. Ada sebersit optimis di kata-katanya meski kemiskinan masih menjadi musuh utama negeri ini.

Suatu malam di down town Seam Reap, tidak jauh dari pasar kerajinan Noon Night Mart, kehidupan malam baru saja dimulai. Beberapa tempat dirubah menyerupai cafe, tempat karaoke dan night bar. Saya duduk di halaman sebuah mini mart sambil berbincang dengan Donna. Beberapa turis lain duduk di samping meja kami dan sibuk dengan pembicaraan mereka. Sementara cafe di sebelah kami mulai berisik memutarkan musik rock barat. Orang banyak berlalu lalang di depan kami, turis asing, penduduk lokal, atau gadis muda lokal berpakaian seksi sambil menggandeng turis pria Kaukasoid.

Noon Night Mart, cocok bagi mereka yang mencari souvenir khas Khmer

Apa yang terjadi di hadapan saya sekarang, untuk sejenak mengingatkan saya pada scene Saigon pada masa perang Vietnam di film “Full Metal Jacket”. Terdengar percakapan transaksi antara turis asing dan gadis muda seksi ber-make up tebal. Dan anak kecil peminta-minta. Tak terkira banyaknya, yang sambil sedikit memaksa, “Give me money, Lady!”, pintanya. Pemandangan ini biasa ditemukan di kompleks Angkor Wat. Anak-anak biasa berteman dengan kemiskinan. Karena kemiskinan, Kamboja juga rentan terhadap perdagangan manusia dan memiliki angka tinggi untuk kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Bisnis seks cepat berkembang di sini, cara termudah untuk terlepas dari kemiskinan. Saya teringat pos imigrasi di Poipet. Himbauan anti trafficking dan perdagangan anak-anak banyak terpampang di dinding pos yang sempit dan pengap.

Sudut jalan di dekat Noon Night Mart, tempat banyak turis biasa menghabiskan malam

Menjelang dua dini hari, suasana masih ramai di sini. Namun kami memutuskan berjalan pulang ke hotel. Pukul 08.00 pagi ini, kami harus meninggalkan Seam Reap. Meski terlalu pagi, kerinduan akan kisah bangsa Khmer dan teriakan anak-anak kecil, pasti akan membawa kami kembali. ***

Poppies Land Memory di Utara Thailand

Perjalanan dengan bis malam membuka perjalanan kami ke  utara Thailand. Sejak awal kami berencana, bertualang ala backpacker menembus hutan tropis negara yang tak pernah dijajah ini, menuju perkampungan hill tribe. Ini bagi kami terasa melebihi sensasi city tour di Bangkok. Stasiun bis Mochit di Bangkok, tempat bis malam menuju Chiang Rai yang akan kami tuju, mudah dijangkau dari stasiun BTS dan MRT Mochit. Hanya 50 Baht bila menggunakan taksi. Jadual keberangkatan dan harga tiket bis ke hampir seluruh propinsi Thailand pun relatif mudah diakses di 1stopbangkok.com. Begitulah petualangan kami dimulai dengan menapaki Paholyothin Road terus ke utara menjelang malam hari itu.

Setelah 12 jam perjalanan, sampai juga kami di terminal bus Chiang Rai. Pagi buta yang sunyi. Tujuan selanjutnya adalah Mae Sai. Kami putuskan untuk beristirahat dan sarapan di warung pojok terminal, sambil bertanya tentang kendaraan menuju Mae Sai. Meski bekal petunjuk sudah kami kantongi, cukup sulit mengkonfirmasikannya ke warga sekitar terminal karena hambatan bahasa. Chiang Rai adalah ibu kota propinsi yang jauh berbeda dengan Bangkok. Setidaknya, bahasa Inggris sederhana mudah dipahami penduduk Bangkok, jadi tak perlu khawatir bila kehilangan arah di ibukota Thailand tersebut. Namun Chiang Rai bukan Bangkok, sampai akhirnya dengan tidak sengaja kami dipertemukan dengan seorang bule atau farang (bangsa kaukasoid dalam bahasa Thai) yang fasih berbahasa Thai, dan Inggris. Berkat bantuannya, kami segera menaiki songthew seperti angkot yang berbanjar dua berhadap-hadapan, menuju stasiun bus lama yang akan membawa kami ke Mae Sai. Setibanya di sana, kami segera menaiki bus menuju Mae Sai. Saat itu sekitar pukul tujuh pagi.

Setiba di Mae Sai, sebuah terminal di pinggir jalan di pertigaan ke Mae Salong dan Thaton, kami menunggu songthew yang akan membawa kami menuju Pasang,. Di sini kami baru menyadari, semenjak tiba di Chiang Rai, kami hanya tiga kali bertemu turis farang. Tidak seperti daerah wisata di Bangkok, Pataya, Phuket, atau bahkan Chiang Mai, turis kaukasoid sulit ditemui di Chiang Rai. Kota ini begitu senyap, sementara Bangkok amat metropolis. Bila Anda menyukai hiburan malam dan dentuman musik, nampaknya Chiang Rai bukan pilihan tepat. Di tengah lamunan ini, tiba-tiba supir mengisyaratkan kami untuk segera menaiki mobilnya, tanda akan segera berangkat. Oya, songthew hanya melaju bila isi penumpang sudah memenuhi baris kursi, atau sesuai dengan jumlah yang dikehendaki sang pengemudi. Kami cukup beruntung pagi itu, meski hanya beberapa orang di kursi penumpang, pengemudi bersedia mengantarkan kami, beserta sepasang turis farang, dan tiga orang penduduk lokal menuju Pasang. Tiba di Pasang, segera kami mencari songthew ke arah Thaton, dan berhenti di Ban Lorcha, miniatur perkampungan Akha, salah satu kelompok etnis di utara Thailand.

Kampung Ban Lorcha, lokalisasi etnis Akha yang sekarang dibuka untuk tujuan wisata. (Copyright: Ronald Agusta)

Dengan tiket seharga 80 baht, kami diizinkan masuk wilayah perkampungan Akha dengan ditemani seorang local guide yang memakai pakaian khas lelaki Akha. Beberapa jenis jerat untuk binatang buruan menjadi display pertama bagi pengunjung. Etnis Akha bersama dengan kelompok etnis minoritas lain seperti Karen, Lahu, Padong, dan lainnya; mendiami dataran tinggi utara Thailand, Burma, Laos, dan Vietnam sejak ratusan tahun yang lalu. Etnis Akha dipercaya bermigrasi dari Tibet, memasuki Propinsi Yunan di selatan China, dan menyebar di wilayah Indocina. Di wilayah Thai, sistem ekonomi ladang berpindah, berburu dan meramu yang menjadi ciri khas orang Akha berubah. Kebijakan pemerintah Thai lebih memilih melokalisasi pemukiman Akha dan pelarangan ladang opium yang sempat membanjiri Thailand di sekitar tahun 1970 hingga 1980an, meskipun hill tribe di sini bertanam opium untuk kepentingan medis dan hanya digunakan dalam kelompoknya saja. Sejak saat itu, etnis Akha dan etnis minoritas lain di Thailand hanya bisa bercocok tanam sesuai dengan jenis tanaman yang diperbolehkan pemerintah Thai, seperti tanaman buah dan teh di daerah Mae Salong.

Setelah kami sempat dipertontonkan tentang cara kerja penjerat binatang, guide memandu kami menuju kumpulan ibu-ibu paruh baya dalam kemasan pakaian tradisional Akha yang siap menari setiap kali ada pengunjung yang hadir di sana. Sementara beberapa orang lelaki berkaos t-shirt dan celana katun mengiringi tarian dengan perkusi diatonic. Selain tarian tradisional Akha, seorang perempuan yang masih berpakaian tradisional, bertenun kain di rumah beratap dedaunan. Selintas tampak jelas ia beraksi dan siap tersenyum di hadapan jepretan kamera kami. Sehabis hill walking mengitari perkampungan Ban Lorcha, kami kembali ke gerbang utama. Bagi yang berniat membeli oleh-oleh untuk kembali pulang ke tanah air, pengunjung bisa membeli beragam buah tangan kerajinan Akha, seperti tas, gelang, manik, pakaian, kain tenun, dsb. Tapi jangan heran kalau harganya selangit. Sebagai bangsa yang sangat bergantung dengan wisata, semua bisa jadi komersil di negara ini.

Puas berkeliling Ban Lorcha, kami memutuskan berangkat ke Ban Yapa, satu lagi perkampungan hill tribe yang dikelola khusus untuk wisatawan. Tetapi karena saat itu hampir tengah hari, kami memutuskan berangkat menuju Thaton terlebih dahulu untuk makan siang, dan mencari penginapan, untuk nantinya kembali ke Ban Yapa Maka berangkat lah kami dengan songthaw, sekitar satu jam lamanya ke Thaton. Sepanjang perjalanan ini banyak kami temui perkampungan adat lain yang merambah bebukitan, juga warna-warni pakaian khas penduduk etnis minoritas yang menarik perhatian mata walau dari  kejauhan. Tiba di Thaton, kami segera makan siang. Harganya cukup murah, rata-rata 30 baht per porsi. Penginapan tempat kami beristirahat berkisar 500 baht, dengan kamar AC dan pemandangan menghadap sungai Ban Makong yang membelah kota Thaton. Masih banyak lagi penginapan disana yang lebih murah mulai dari harga 150 Baht.

Setelah istirahat sejenak di penginapan, kami kembali ke Ban Yapa kembali menggunakan songthaw disambung dengan berjalan kaki menaiki bukit. Setiba di sana, beberapa penjaja cinderamata Akha langsung mengerubuti kami. Pendagang Akha memang terkenal agresif menjual dagangannya. Maka, jangan terkaget bila begitu ada kontak mata, mereka tak sungkan menarik tangan kita untuk menghampiri kiosnya. Terkadang beragam souvenir mereka pasangi ke tubuh kita, seperti gelang dan tas kecil. Tidak perlu takut, cukup tegas saja menolak bila tak tertarik, atau karena harga yang tak sesuai. Namun sore itu kami cukup tertarik untuk tinggal sejenak bersama tiga orang nenek-nenek pemilik kios cinderamata. Dengan bahasa ala kadarnya, duduk bersama mereka terasa menyenangkan. Selain berpakaian tradisional lengkap, ketiganya sama-sama menghisap tembakau dari cangklong. Kebiasaan ini sudah ditinggalkan generasi muda Akha, yang memilih berpakaian modern seperti penduduk Thailand lainnya. Selain karena tutup kepala yang dirasa berat, sekitar 5 kilo, muda mudi Akha bercita-cita hidup mapan dan terbuka dengan dunia luar, berumah semi permanen, mengendara motor bebek, dan merawat rambut ala pemain sinetron Korea.

Perempuan Tua Akha (Copyright: Ronald Agusta)

Semua ini langsung dan tidak, terpengaruh dari kebijakan pemerintah Thai sendiri. Persoalan etnis minoritas, seperti halnya di daerah lain, tentu berhubungan dengan situasi politis dan kondisi sosial negara modern yang membawahinya. Kepercayaan lamanya pun banyak ditinggalkan, karena dianggap bukan agama. Itu lah sebabnya, banyak penetrasi misionaris dan mengalihkan kepercayaan lokal ke agama yang dianggap lebih modern. Termasuk Ban Yapa Village, yang pengelolaannya di bawah kontrol sebuah yayasan misionaris. Karena perkampungan ini cukup luas, sedangkan matahari sudah condong ke barat, kami segera kembali ke Thaton, karena kendaraan umum di daerah ini hanya sampai pukul enam sore.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, kami kembali ke Ban Yapa. Setelah melewati kios pedagang cendera mata, kami memasuki sebuah lembah dengan terlebih dahulu membayar harga tiket sebesar 250 Baht, atau sekitar 75,000 rupiah. Kami bebas memasuki lembah dan bebas mengabadikan gambar pemukiman dan masyarakat yang didiami empat etnis, Akha, Lahu, Padong, dan Karen. Di dalam lembah –lagi-lagi– seperti daerah wisata pada umumnya, pemandangan pertama yang kami jumpai adalah kios cindera mata yang berjajar sampai ke tengah pemukiman, ditunggui kaum perempuan yang juga berpakaian lengkap tradisional, sambil menunggui anak usia balita. Ada yang menenun, bergitar, dan siap tersenyum ke arah kamera kami. Kecuali etnis Padong yang kaum perempuannya menumpukan kalung logam dilehernya, anak-anak dari etnis lain tampak tak jauh berbeda dengan anak-anak di daerah lain. Cukup berkaos dan bercelana pendek, mereka tampak asyik bermain bola atau bermain-main di parit.

Perempuan penjaja suvenir di Ban Yapa (Copyright: Ronald Agusta)

Di antara semua kelompok etnis, orang Padong atau sering disebut juga Hmong masih kuat menjalani adat untuk anak perempuan, seperti masih tidak diperbolehkan bersekolah, dan wajib menggunakan beberapa kalung logam di leher sejak usia empat tahun. Menurut adatnya, kewajiban ini merupakan hukuman bagi perempuan untuk mematuhi aturan adat. Bila terjadi pelanggaran, tumpukan kalung logam di leher harus dilepas. Artinya si perempuan akan kehilangan nyawanya karena otot leher yang tidak lagi kuat menyangga kepala. Kebanyakan etnis minoritas ini kini beragama Kristen dan Katolik, walau sempat juga kami temui makam bersimbol salib tetapi dilengkapi seserahan sajen dan hio, sesuai kebiasaan agama lama mereka.

Pemukiman asli penduduk Ban Yapa, terletak mengelilingi warung-warung souvenir. Rumah panggung beratap rumbia, dilengkapi televisi dan alat elektronik lain didalamnya, sekilas membuat saya tidak merasa asing ada di tempat ini. Kloset porselen dengan tembok  dan atap tertutup juga terdapat di salah satu pojokan kampung.

Tugas laki-laki kini berladang dan menjaga rumah, sementara kaum perempuan, biasanya ibu muda, dan perempuan separuh baya menunggu kios souvenir. Lokasi ladang lebih jauh menjorok ke dalam lembahan. Itu lah sebabnya agak sulit menemukan kaum lelaki di Ban Yapa. Membuat cinderamata kini menjadi tambahan income bagi keluarga. Anak-anak usia sekolah pun jarang ditemui, kecuali setelah mereka pulang bersekolah. Di bukit puncak tempat satu perkampungan Lahu, diantara rumah panggung dan sederet jemuran seragam sekolah, kami memandang jajaran pegunungan di kejauhan sana. Di baliknya, itu lah Burma, atau kini Myanmar setelah namanya dirubah oleh pemerintahan junta militer.

Di sinilah kami berdiri, selangkah lagi menuju Burma, seakan terpaku oleh pikiran seperti apa kehidupan hill tribe di sana. Apakah disana lebih asli? Lebih mempunyai kebebasan mempertahankan tradisi dan kearifan lokal mereka sendiri? Tidak teracuni racun industri pariwisata demi keuntungan devisa? Sambil terus memandang ke arah kanan jalan, dalam truk kontainer tumpangan –karena tak juga menemukan songthaw menuju Thaton– kami menetapkan hati, next backpacking trip must be Burma! Sore itu, bis malam kami melaju meninggalkan kenangan sisa jalur perdagangan opium dan eksotisme masyarakat adat di perbatasan Burma dan Thailand. ***

Semua foto diambil selama perjalanan oleh Ronald Agusta (www.ronaldagustaphotography.com)